Agus Mustofa : Tinggalkan Kursi Direksi dan Jadi Penulis


“Kalau buku ini laku dan booming, maka saya akan keluar dari pekerjaan…”

Begitulah kira-kira tekad Agus Mustafa ketika pertama kali berniat total mencebur ke industri penulisan. Buku yang dimaksudnya adalah buku kedua, yang temanya tentang ilmu tasawuf modern. Kisahnya bisa ditebak kemudian, karena buku tersebut laku. Dalam tempo satu bulan, sekitar 5000 eksemplar (cetakan pertama) ludes terjual. Cetak lagi berikutnya, juga habis dalam waktu sebulan. Sampai saat ini, hampir semua buku yang ditulisnya, selalu cetak ulang berkali-kali. Bahkan buku pertamanya Pusaran Energi Kabah, tercatat sudah memasuki cetakan ke-21.

“Saya tambah yakin dong dengan pilihan ini,” ujarnya dengan mantap ketika memberikan pencerahan kepada peserta Kursus Menulis Buku Sekolah Menulis Kreatif Indonesia, di Women Activities Center Gandaria Jakarta Selatan, Jumat (25/3) lalu. Sampai saat ini, Agus sudah menelurkan sekitar 33 judul buku yang kebanyakan bertema tasawuf modern, dengan judul-judul yang kontroversial. Misalnya “Adam Ternyata Dilahirkan,” “Tidak Ada Siksa Kubur” “Tahajud Siang Hari Shalot Zhuhur Malah Hari” dan sebagainya. Judul-judul kontroversial itu ternyata sangat disukai pembaca. Buktinya, sampai sekarang hampir seluruh buku Agus terus dicetak ulang.

Agus Mustofa bisa menjadi inspirasi buat siapapun yang mau merambah dunia penulisan sebagai jalan hidupnya. Bayangkan, sebelum menjadi penulis, ia menjabat posisi yang tinggi di grup Jawa Pos yaitu jajaran direksi. Tapi karena hati dan keyakinannya sangat tinggi terhadap penulisan, maka dia tinggalkan jabatan tersebut. Ia terus menulis dan menerbitkannya sendiri lewat bendera Padma Press Surabaya. Penerbit tersebut khusus hanya menerbitkan buku-buku yang ditulisnya sendiri. “Paling tidak, saya tulis dan terbitkan satu buku dalam 3 bulan,” ujarnya.

Menurut Agus, prospek industri menulis di Indonesia sangat terbuka. Jika kita tahu dan paham kebutuhan pasar, maka industri ini akan sangat menguntungkan. “Saya bisa hidup nyaman, bisa menyekolahkan anak ke luar negeri, dari menulis…” katanya tanpa bermaksud menyombongkan diri. Ia menceritakan hal tersebut sebagai jawaban bagi orang-orang yang tidak yakin dengan profesi menulis.

Bagaimana ia mengatur waktu untuk menulis?

“Setiap hari saya ini seperti dokter yang buka praktik. Kalau dokterkan minimal praktik 2 jam, nah waktu praktik saya setiap hari habis sholat subuh sampai siang,” katanya menjelaskan tentang wajibnya penulis rutin menulis. Tak penulis yang bisa menulis tanpa praktik menulis. Dengan pengaturan waktu semacam itu, Agus masih bisa aktif dalam banyak sekali kegiatan yang masih berkaitan dengan menulis. Dan hal ini menjadi salah satu rahasia suksesnya.

Hampir setiap hari, setiap pekan dan setiap bulan, Agus jalan-jalan dari satu kota ke kota lainnya. Ngapain? Memasarkan buku, menjadi pembicara, kadang berceramah agama, menjadi khotib Jumat dan sebagainya. Semua orang yang mengundangnya tak lain dan tak bukan, karena buku-buku yang ditulisnya. Mereka tahu dan kemudian kenal lalu akrab sehingga terus menerus mengundangnya. Tidak hanya individu dan kelompok sosial, banyak perusahaan yang juga mengundangnya untuk mengulas sejumlah tema sesuai judul buku yang ditulisnya.

Penulis memang harus begitu. Saat ini, penjualan buku tidak bisa hanya mengandalkan toko. Penulisnya lah yang sebaiknya aktif menyebarkan bukunya, ke komunitas-komunitas yang tepat. Banyak contoh sukses seperti pembicara terkenal Mario Teguh, Tung Desem atau Andrie Wongso. Agus Mustofa pun setali tiga uang. Dia tak kenal lelah bergerak setiap hari, memasarkan bukunya, dan menikmati hasilnya.

Sekarang, Agus sudah sangat menikmati profesi dan pekerjaannya. Setiap hari menulis, setiap hari bicara, dan setiap hari menerima royalti serta keuntungan bisnis bukunya. Ya menulis, ya bicara, ya sedekah, ya bagi ilmu sebagai penceramah, ya bisnis. Lengkap! Tak sia-sia ia meninggalkan jabatan tinggi pada 2004 silam, untuk menjadi penulis.

Salut…

Dodi Mawardi
Pengelola Sekolah Menulis Kre@tif Indonesia
Penulis buku laris “Belajar Goblok dari Bob Sadino” dan “Cara Mudah Menulis Buku Metode 12 PAS”

Advertisements
This entry was posted in berbagi, Blogshop and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s